Jakarta, 8 Mei 2026 – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkap sejumlah aktivitas yang berisiko meningkatkan penularan hantavirus kepada manusia, terutama aktivitas yang berkaitan dengan paparan hewan pengerat seperti tikus.
Pihak Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa hantavirus umumnya ditularkan melalui urine, air liur, kotoran, atau debu yang telah terkontaminasi virus dari hewan pengerat.
Aktivitas membersihkan gudang, loteng, ruang penyimpanan, rumah kosong, atau area tertutup yang lama tidak digunakan disebut menjadi salah satu aktivitas paling berisiko apabila dilakukan tanpa perlindungan yang memadai.
Selain itu, kegiatan menyapu atau membersihkan kotoran tikus secara langsung tanpa menggunakan masker dan sarung tangan juga dapat meningkatkan risiko seseorang menghirup partikel virus di udara.
Lingkungan dengan sanitasi buruk dan populasi tikus tinggi dinilai menjadi faktor utama yang mempermudah penyebaran hantavirus kepada manusia.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan masyarakat yang bekerja di area pergudangan, pertanian, pasar, maupun lokasi dengan potensi paparan hewan pengerat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas.
Pengamat kesehatan menjelaskan bahwa hantavirus berbeda dengan penyakit menular pernapasan biasa karena penularannya lebih banyak terjadi akibat kontak dengan lingkungan yang telah terkontaminasi virus.
Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Masyarakat diimbau menggunakan masker, sarung tangan, dan cairan disinfektan saat membersihkan area yang diduga menjadi sarang tikus atau terdapat kotoran hewan pengerat.
Selain itu, makanan dan barang penyimpanan rumah tangga juga disarankan disimpan di tempat tertutup agar tidak mudah terkontaminasi tikus.
Gejala hantavirus sendiri dapat berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, hingga gangguan pernapasan dan komplikasi serius pada kondisi tertentu.
Pemerintah meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala setelah memiliki riwayat kontak dengan lingkungan yang dipenuhi tikus atau hewan pengerat lainnya.
Kementerian Kesehatan saat ini terus meningkatkan pengawasan dan edukasi kepada masyarakat menyusul munculnya sejumlah kasus hantavirus di beberapa wilayah Indonesia.
Pengamat epidemiologi menilai perubahan lingkungan dan kepadatan permukiman perkotaan juga dapat meningkatkan interaksi manusia dengan hewan pengerat sehingga kewaspadaan masyarakat perlu terus ditingkatkan.
Pemerintah berharap langkah pencegahan sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan dan menggunakan alat pelindung saat membersihkan area berisiko dapat membantu menekan penyebaran hantavirus di Indonesia.








