Jakarta, 6 September 2026 – Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah menilai Lomba Kreasi Baris-Berbaris dan Pengibaran Bendera (LKBB-PB) Tingkat Nasional MPR RI 2026 menjadi salah satu wadah penting untuk membentuk karakter generasi muda. Kegiatan tersebut tidak hanya mempertemukan siswa dalam sebuah kompetisi, tetapi juga dirancang untuk menanamkan kedisiplinan, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama. Nilai-nilai Empat Pilar MPR RI juga menjadi bagian utama yang ingin diperkenalkan kepada para peserta melalui kegiatan nyata. Menurut Siti, pembentukan karakter generasi muda membutuhkan ruang yang memungkinkan pelajar berinteraksi dan bekerja bersama secara langsung. LKBB-PB dinilai mampu memberikan pengalaman tersebut melalui latihan, kompetisi, dan pertemuan antarpelajar dari berbagai daerah. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat semangat kebangsaan di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan gawai yang semakin mendominasi kehidupan generasi muda.
Siti menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri penutupan dan pengumuman pemenang LKBB-PB Tingkat Nasional 2026 di halaman Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu, 5 September 2026. Ia melihat antusiasme peserta cukup tinggi sejak kegiatan tingkat provinsi hingga kompetisi nasional. Pada penyelenggaraan tahun ini, peserta tingkat nasional berasal dari 30 provinsi yang sebelumnya telah melalui tahapan pemilihan di daerah masing-masing. Kehadiran peserta dari berbagai wilayah menunjukkan kompetisi tersebut mulai mendapatkan tempat di kalangan sekolah dan pelajar. Bahkan, terdapat peserta yang harus menempuh perjalanan cukup panjang dari kabupaten menuju lokasi keberangkatan sebelum akhirnya tiba di Jakarta. Kondisi itu dinilai menunjukkan besarnya semangat para pelajar untuk membawa nama sekolah sekaligus daerah masing-masing. MPR berharap antusiasme tersebut dapat menjadi modal untuk memperluas penyelenggaraan pada tahun berikutnya.
Menurut Siti, peserta seharusnya tidak memandang LKBB-PB semata-mata sebagai ajang untuk memperoleh gelar juara. Pengalaman selama mengikuti kegiatan justru diharapkan memberikan nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Baris-berbaris membutuhkan disiplin, konsentrasi, kesamaan gerakan, kepatuhan terhadap aturan, dan kemampuan setiap anggota menyesuaikan diri dengan tim. Sementara proses pengibaran bendera menuntut ketelitian dan rasa tanggung jawab karena setiap anggota mempunyai tugas yang saling berkaitan. Kesalahan satu orang dapat memengaruhi keseluruhan penampilan sehingga peserta harus belajar membangun kepercayaan satu sama lain. Proses latihan yang dilakukan sebelum kompetisi juga membentuk ketahanan mental karena siswa harus menjalani kegiatan secara konsisten. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk membangun karakter generasi muda di luar lingkungan kompetisi.
LKBB-PB sekaligus menjadi bagian dari upaya MPR mengenalkan Empat Pilar MPR RI kepada pelajar melalui pendekatan yang lebih praktis. Empat Pilar tersebut meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika. Pemahaman terhadap nilai kebangsaan dinilai tidak cukup apabila hanya diberikan melalui penjelasan teoritis di ruang kelas. Pelajar juga membutuhkan kegiatan yang memungkinkan mereka menerapkan semangat persatuan, gotong royong, toleransi, tanggung jawab, dan kedisiplinan secara langsung. Melalui LKBB-PB, nilai tersebut dapat muncul dalam proses membentuk tim dan menyelesaikan tugas bersama. Para siswa juga membawa identitas daerah masing-masing tetapi tetap bertemu dalam satu kompetisi nasional. Kondisi tersebut diharapkan memperkuat pemahaman mengenai keberagaman sebagai bagian dari kehidupan berbangsa.
Pertemuan pelajar dari 30 provinsi menjadi bagian lain yang mendapat perhatian Siti. Menurutnya, peserta memperoleh kesempatan untuk mengenal siswa dari latar belakang budaya, bahasa, dan daerah yang berbeda selama berada di Jakarta. Interaksi tersebut diharapkan tidak berhenti setelah kompetisi selesai, melainkan berkembang menjadi jaringan pertemanan yang dapat dipertahankan pada masa mendatang. Pelajar dapat bertukar pengalaman mengenai sekolah, kegiatan organisasi, budaya daerah, maupun proses latihan yang mereka jalani. Hubungan lintas daerah tersebut dinilai sebagai modal sosial yang penting bagi generasi muda Indonesia. Dalam beberapa tahun mendatang, para peserta dapat berada di berbagai bidang pendidikan maupun pekerjaan dan kembali bertemu dalam ruang kolaborasi yang berbeda. Karena itu, pengalaman mengikuti kompetisi nasional mempunyai nilai yang lebih luas dibandingkan sekadar hasil pertandingan.
Penyelenggaraan LKBB-PB sendiri mengalami perkembangan cukup cepat dalam dua tahun terakhir. Pada 2025, kegiatan tersebut baru dilaksanakan sebagai uji coba di tujuh provinsi. Cakupannya kemudian berkembang menjadi 30 provinsi pada 2026, menunjukkan peningkatan partisipasi yang cukup besar. MPR menargetkan kegiatan serupa pada 2027 dapat menjangkau seluruh 38 provinsi di Indonesia sehingga keterwakilan peserta semakin merata. Siti juga menilai mekanisme seleksi dapat terus diperbaiki agar semakin banyak sekolah memperoleh kesempatan mengikuti kompetisi. Pada sejumlah daerah, peserta saat ini dipilih dengan mempertimbangkan prestasi sekolah dan koordinasi dengan dinas pendidikan. Ke depan, seleksi berjenjang dari kabupaten atau kota menuju tingkat provinsi dapat menjadi salah satu model yang dikembangkan.
Evaluasi juga dilakukan terhadap teknis pelaksanaan kompetisi tingkat nasional. Siti menilai jadwal kegiatan tahun ini berlangsung cukup padat karena seluruh rangkaian harus diselesaikan dalam waktu yang relatif terbatas. Ia membuka kemungkinan pelaksanaan kompetisi pada tahun berikutnya diperpanjang menjadi dua hari agar peserta mempunyai waktu yang lebih memadai untuk tampil dan beristirahat. Penambahan waktu juga akan semakin diperlukan apabila jumlah provinsi yang berpartisipasi meningkat dari 30 menjadi 38. Dengan jadwal yang lebih proporsional, setiap tim diharapkan dapat menunjukkan kemampuan terbaik tanpa harus menjalani rangkaian kegiatan yang terlalu padat. Evaluasi terhadap fasilitas, sistem kompetisi, serta dukungan bagi peserta juga menjadi bagian dari pengembangan kegiatan. MPR ingin penyelenggaraan berikutnya memberikan pengalaman yang semakin baik bagi sekolah dan pelajar.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani juga menyampaikan dukungan agar LKBB-PB dilanjutkan dan diperluas pada 2027. Pengembangan skala kegiatan dinilai penting karena kompetisi tersebut telah mempertemukan pelajar dari berbagai daerah dalam suasana yang mengedepankan disiplin dan nasionalisme. Dukungan fasilitas dan bentuk apresiasi kepada peserta juga menjadi bagian yang akan diperhatikan dalam penyelenggaraan berikutnya. MPR berharap siswa yang telah mengikuti kompetisi dapat membawa pengalaman serta nilai kebangsaan kembali ke sekolah dan lingkungan masing-masing. Dengan demikian, dampak kegiatan tidak berhenti pada peserta yang hadir di Jakarta. Para pelajar dapat menjadi contoh bagi teman-temannya dalam menerapkan kedisiplinan, kerja sama, dan semangat persatuan. Pengalaman sebagai peserta tingkat nasional juga diharapkan meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam mengikuti berbagai kegiatan positif lainnya.
Dalam kompetisi tingkat nasional tahun ini, SMK Negeri 2 Garut, Jawa Barat, berhasil keluar sebagai juara pertama. Prestasi tersebut menjadi capaian penting karena tim sekolah itu sebelumnya belum memiliki pengalaman dalam kompetisi pengibaran bendera dengan format serupa. Para peserta harus melakukan berbagai penyesuaian selama latihan untuk memahami ketentuan dan tata cara yang digunakan pada tingkat nasional. Sementara itu, SMA Negeri 1 Gianyar dari Bali meraih juara harapan satu, SMA Negeri 99 Jakarta mendapatkan juara harapan dua, dan SMA Negeri 3 Langsa dari Aceh memperoleh juara harapan tiga. Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang melibatkan unsur TNI, Polri, serta Purna Paskibraka Indonesia. Hasil kompetisi menjadi bagian dari proses panjang yang sebelumnya dimulai melalui penyelenggaraan LKBB-PB di berbagai provinsi. MPR menekankan bahwa seluruh peserta tetap membawa pengalaman berharga terlepas dari posisi mereka dalam hasil akhir kompetisi.
MPR berharap LKBB-PB dapat terus berkembang menjadi salah satu ruang pembinaan karakter bagi pelajar Indonesia. Perluasan hingga seluruh 38 provinsi menjadi sasaran berikutnya agar kesempatan mengikuti kegiatan dapat dirasakan secara lebih merata oleh generasi muda dari berbagai daerah. Siti Fauziah menekankan bahwa tujuan utama kompetisi bukan sekadar mencari tim terbaik dalam baris-berbaris dan pengibaran bendera, tetapi membentuk generasi yang disiplin, kreatif, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki semangat kebangsaan. Pertemuan lintas daerah juga diharapkan menumbuhkan sikap saling menghargai terhadap keberagaman yang dimiliki Indonesia. Evaluasi penyelenggaraan tahun ini akan digunakan untuk memperbaiki kualitas kegiatan pada 2027. Dengan pengembangan yang berkelanjutan, LKBB-PB diharapkan menjadi kegiatan pendidikan karakter yang mampu menghubungkan pemahaman nilai kebangsaan dengan pengalaman nyata para siswa.





