Jakarta, 5 September 2026 – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan Putri Mahkota Swedia Victoria menunjukkan kekaguman ketika menyaksikan secara langsung simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia saat mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Kunjungan berlangsung pada Jumat, 4 September 2026, dengan Nasaruddin yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal turut mendampingi perjalanan tersebut bersama Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo. Victoria mendapatkan kesempatan melihat dua rumah ibadah berbeda agama yang berdiri berdampingan di pusat Jakarta dan kini terhubung melalui Terowongan Silaturahim. Menurut Nasaruddin, keberadaan masjid dan gereja dalam satu kawasan memberikan gambaran mengenai karakter kehidupan keberagamaan masyarakat Indonesia. Putri Mahkota Swedia disebut tertarik setelah memperoleh penjelasan mengenai hubungan kedua rumah ibadah tersebut. Momen itu sekaligus menjadi kesempatan memperkenalkan praktik toleransi Indonesia kepada salah satu tokoh internasional.
Victoria datang ke Indonesia dalam kapasitasnya sebagai Duta Kehormatan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNDP. Kunjungannya berlangsung pada 4 hingga 8 September 2026 dengan membawa sejumlah agenda yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan. Pada hari pertama lawatannya, Victoria mengunjungi Masjid Istiqlal dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gereja Katedral Jakarta. Nasaruddin menjelaskan rombongan mendapatkan sambutan hangat dari jamaah ketika berada di kedua rumah ibadah tersebut. Suasana tersebut menjadi salah satu hal yang memperkuat kesan mengenai hubungan harmonis antarumat beragama di Indonesia. Bagi Victoria, kunjungan tersebut memberikan kesempatan melihat praktik toleransi bukan hanya melalui penjelasan, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
Terowongan Silaturahim menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian dalam rangkaian kunjungan tersebut. Infrastruktur bawah tanah itu menghubungkan kompleks Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta sehingga masyarakat dapat berpindah di antara kedua kawasan dengan lebih mudah. Nasaruddin memperkenalkan terowongan tersebut sebagai simbol persaudaraan dan kedekatan antarumat beragama di Indonesia. Keberadaannya memiliki makna lebih luas daripada fungsi fisik sebagai jalur penghubung karena menjadi representasi hubungan antara dua komunitas keagamaan. Victoria disebut sangat tertarik melihat dua rumah ibadah besar dengan karakter berbeda dapat terhubung melalui sebuah fasilitas yang secara khusus membawa pesan persahabatan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dari kunjungan Putri Mahkota Swedia di Jakarta.
Momen lain yang memberikan kesan kuat terjadi ketika rombongan berada di sekitar Terowongan Silaturahim. Dari arah Masjid Istiqlal terdengar suara beduk, sementara dari kawasan Gereja Katedral terdengar bunyi lonceng gereja. Nasaruddin menggambarkan kedua suara tersebut seolah bersahutan dan menghadirkan simbol keberagaman yang hidup berdampingan. Menurutnya, pengalaman semacam itu mempunyai karakter yang sangat khas dan sulit ditemukan di tempat lain. Beduk dan lonceng masing-masing memiliki hubungan dengan tradisi keagamaan berbeda, tetapi dalam momen tersebut keduanya terdengar dalam satu ruang yang sama. Situasi itu memperkuat pesan bahwa perbedaan tidak harus menjadi penghalang bagi masyarakat untuk hidup berdampingan secara harmonis.
Saat berada di Masjid Istiqlal, Victoria juga memperoleh penjelasan mengenai sejarah, arsitektur, serta berbagai fungsi masjid tersebut. Selain menjadi tempat ibadah, Istiqlal mempunyai fungsi sosial dan menjadi ruang pertemuan bagi berbagai kegiatan masyarakat. Putri Mahkota Swedia diperkenalkan dengan sejumlah bagian penting kompleks masjid, termasuk ruang utama, kubah, beduk berukuran besar, serta kawasan yang memperlihatkan posisi Gereja Katedral di seberangnya. Salah satu fakta yang turut disampaikan adalah Masjid Istiqlal dirancang oleh Friedrich Silaban, seorang arsitek beragama Kristen. Latar belakang tersebut memiliki nilai simbolis tersendiri dalam perjalanan sejarah pembangunan masjid nasional Indonesia. Kehadiran unsur tersebut semakin memperkuat narasi mengenai kerja sama lintas identitas yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan bangsa.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Gereja Katedral Jakarta dengan didampingi Ignatius Kardinal Suharyo. Di dalam gereja, Victoria diperkenalkan dengan sejumlah unsur yang memperlihatkan proses inkulturasi antara tradisi Katolik dan kebudayaan Indonesia. Salah satu yang menarik perhatian adalah representasi Bunda Maria yang mempunyai karakter berbeda dibandingkan bentuk yang lazim ditemui di Eropa. Patung tersebut menampilkan berbagai unsur yang berkaitan dengan identitas Indonesia, mulai dari ornamen hingga pakaian yang menggunakan sentuhan kebudayaan Nusantara. Mahkotanya memuat representasi peta Indonesia, sementara bagian lainnya menampilkan simbol Garuda Pancasila dan unsur batik. Detail tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan dapat berinteraksi dengan kebudayaan lokal tanpa kehilangan identitas dasarnya.
Kardinal Suharyo juga melihat sisi lain dari Victoria selama kunjungan berlangsung, terutama ketika Putri Mahkota berinteraksi dengan anak-anak yang berada di kawasan Katedral. Victoria disebut tidak menjaga jarak dan bersedia berfoto bersama mereka di tengah agenda resmi yang cukup padat. Interaksi tersebut memberikan suasana yang lebih cair dalam kunjungan yang melibatkan sejumlah tokoh agama dan pejabat. Sikap tersebut juga memperlihatkan bahwa agenda Victoria tidak hanya berorientasi pada pertemuan formal. Dalam perjalanan selama berada di Indonesia, ia dijadwalkan berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat untuk melihat secara langsung sejumlah program pembangunan. Pendekatan lapangan menjadi bagian penting dari perannya sebagai Duta Kehormatan UNDP.
Kunjungan Victoria ke Indonesia memang tidak terbatas pada isu kerukunan antarumat beragama. Dalam rangkaian lawatannya, ia juga akan melihat sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, transformasi digital, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Agenda tersebut memberikan kesempatan untuk melihat perkembangan sekaligus tantangan Indonesia dari berbagai perspektif. Victoria juga dijadwalkan bertemu dengan pemerintah, mitra pembangunan, sektor swasta, generasi muda, dan perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pembahasan diarahkan pada berbagai upaya mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Dengan rangkaian tersebut, kunjungan ke Istiqlal dan Katedral menjadi bagian dari gambaran lebih luas mengenai keberagaman dan pembangunan sosial Indonesia.
Bagi Indonesia, kunjungan tokoh internasional ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral memiliki nilai diplomasi budaya dan keagamaan yang cukup penting. Kedua rumah ibadah tersebut semakin sering diperkenalkan kepada tamu internasional sebagai contoh hubungan antaragama yang dibangun melalui ruang bersama. Terowongan Silaturahim memperkuat pesan tersebut karena menghadirkan simbol fisik yang mudah dipahami oleh pengunjung dari berbagai latar belakang. Kehadiran Victoria memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa toleransi dapat diwujudkan melalui hubungan kelembagaan sekaligus interaksi masyarakat sehari-hari. Pesan tersebut relevan di tengah berbagai tantangan hubungan antaragama yang masih muncul di banyak bagian dunia. Pengalaman yang diperoleh selama kunjungan diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai karakter masyarakat Indonesia yang majemuk.
Nasaruddin berharap kesan yang diperoleh Putri Mahkota Victoria dapat memperkenalkan semangat toleransi Indonesia kepada masyarakat internasional secara lebih luas. Keberadaan Istiqlal, Katedral, dan Terowongan Silaturahim dipandang bukan sekadar ikon arsitektur, tetapi representasi mengenai bagaimana perbedaan dapat ditempatkan dalam hubungan yang saling menghormati. Kekaguman Victoria menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya menjaga kerukunan tersebut dalam kehidupan masyarakat. Indonesia memiliki keragaman agama, suku, bahasa, dan kebudayaan sehingga toleransi harus terus dipelihara melalui praktik nyata, bukan hanya menjadi slogan. Kunjungan Putri Mahkota Swedia juga diharapkan memperkuat hubungan Indonesia dan Swedia serta membuka semakin banyak ruang kerja sama dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Dari pusat Jakarta, pesan mengenai persahabatan antarumat beragama itu diharapkan dapat menjadi salah satu wajah Indonesia yang semakin dikenal dunia.





