Jakarta, 3 September 2026 – Ketua Umum DPP Partai Ummat Ridho Rahmadi dan Sekretaris Jenderal Taufik Hidayat resmi mengundurkan diri dari jabatan masing-masing setelah memimpin struktur partai tersebut secara berpasangan. Pengunduran diri keduanya berlaku sejak 20 Agustus 2026 dan kemudian diterima secara resmi oleh Majelis Syura Partai Ummat dalam Musyawarah Majelis Syura ke-8 pada 26 Agustus 2026. Keputusan tersebut membuat kepemimpinan eksekutif Partai Ummat mengalami perubahan menjelang agenda konsolidasi organisasi berikutnya. Ridho disebut mengambil keputusan mundur setelah mempertimbangkan kesulitan membagi waktu, tenaga, dan pikiran antara aktivitas politik dengan tanggung jawab profesionalnya. Sementara Taufik menjelaskan dirinya ikut meninggalkan posisi sekretaris jenderal karena sejak awal kepengurusannya dipilih dalam satu paket bersama Ridho. Majelis Syura menerima keputusan keduanya dan segera menunjuk pelaksana tugas agar roda organisasi tetap berjalan.
Pelaksana Tugas Ketua Umum Partai Ummat Ansufri Idrus Sambo menjelaskan salah satu alasan utama Ridho mundur adalah meningkatnya kesibukan di luar kegiatan partai. Ridho selama sekitar satu tahun terakhir harus menjalankan aktivitas secara bergantian antara Yogyakarta dan Jakarta. Selain memimpin Partai Ummat, ia memiliki tanggung jawab sebagai Direktur Politeknik Artificial Intelligence di Yogyakarta yang membutuhkan perhatian cukup besar. Kedua posisi tersebut sama-sama menuntut waktu, tenaga, dan konsentrasi sehingga semakin sulit dijalankan secara bersamaan. Aktivitas partai membutuhkan kehadiran dan komunikasi dengan struktur di berbagai daerah, sedangkan tanggung jawab akademik serta profesional Ridho juga tidak dapat ditinggalkan. Situasi tersebut akhirnya menjadi salah satu pertimbangan untuk menyerahkan kepemimpinan partai kepada figur yang dapat memberikan perhatian lebih penuh.
Faktor kesehatan turut menjadi pertimbangan dalam keputusan Ridho meninggalkan kursi ketua umum. Intensitas perjalanan antara Yogyakarta dan Jakarta disebut membuat kondisi fisiknya beberapa kali menurun. Mobilitas tinggi menjadi bagian yang sulit dihindari karena pusat kegiatan partai banyak berlangsung di Jakarta, sementara aktivitas profesionalnya berada di Yogyakarta. Kondisi tersebut membuat jadwal perjalanan dan pekerjaan semakin padat dalam beberapa waktu terakhir. Partai menilai keberlangsungan organisasi membutuhkan ketua umum yang memiliki kemampuan memberikan perhatian secara penuh terhadap agenda politik dan konsolidasi. Ridho kemudian memilih mengurangi beban aktivitas dengan tidak lagi memegang jabatan tertinggi dalam struktur eksekutif Partai Ummat.
Ridho sendiri menggambarkan beratnya mengurus partai politik karena membutuhkan energi yang sangat besar. Kepemimpinan partai tidak hanya berkaitan dengan menghadiri pertemuan atau menyampaikan sikap politik, tetapi juga memastikan struktur organisasi dari pusat hingga daerah berjalan secara konsisten. Ketua umum harus berkomunikasi dengan kader, mempersiapkan agenda politik, melakukan konsolidasi, dan merespons perkembangan nasional. Tantangan tersebut semakin besar bagi Partai Ummat yang masih tergolong sebagai partai relatif muda dan membutuhkan penguatan organisasi. Ridho telah memimpin sejak Partai Ummat dideklarasikan pada 2021 sehingga berada dalam proses pembentukan dan perjalanan awal partai selama sekitar lima tahun. Keputusan mundur akhirnya menjadi perubahan kepemimpinan penting sejak organisasi tersebut berdiri.
Sementara itu, pengunduran diri Taufik Hidayat memiliki alasan yang berbeda meskipun dilakukan dalam periode yang sama. Taufik menyatakan dirinya ikut mundur karena jabatan sekretaris jenderal yang diembannya sejak awal merupakan bagian dari satu paket kepemimpinan bersama ketua umum. Ketika Ridho memutuskan menyerahkan jabatannya, Taufik memilih mengambil langkah serupa agar kepemimpinan berikutnya dapat membentuk kombinasi ketua umum dan sekretaris jenderal yang baru. Keputusan tersebut juga memberikan ruang kepada Majelis Syura untuk melakukan penyegaran struktur organisasi secara lebih menyeluruh. Pengunduran diri Taufik bukan berarti seluruh aktivitasnya bersama Partai Ummat otomatis berhenti karena mekanisme organisasi selanjutnya tetap ditentukan berdasarkan keputusan internal. Pergantian kepemimpinan dilakukan berdasarkan ketentuan Anggaran Dasar Partai Ummat.
Majelis Syura kemudian mengambil langkah untuk mencegah kekosongan kepemimpinan setelah menerima surat pengunduran diri Ridho dan Taufik. Ansufri Idrus Sambo ditunjuk menjadi Pelaksana Tugas Ketua Umum DPP Partai Ummat. Sementara posisi Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal dipercayakan kepada Muhammad Sadiq. Penunjukan tersebut membuat kegiatan administratif dan politik partai tetap dapat berlangsung selama proses menuju kepemimpinan definitif dilakukan. Pelaksana tugas memiliki tanggung jawab menjaga koordinasi antara pengurus pusat dan daerah sekaligus memastikan berbagai program yang telah direncanakan tidak terhenti. Stabilitas organisasi menjadi perhatian karena pergantian dua posisi strategis secara bersamaan dapat memengaruhi konsolidasi apabila tidak ditangani dengan cepat.
Majelis Syura memandang perubahan kepemimpinan tersebut sebagai bagian dari dinamika dan penyegaran organisasi. Pergantian pengurus merupakan hal yang dapat terjadi ketika terdapat perubahan kondisi maupun kebutuhan internal partai. Pengunduran diri Ridho dan Taufik juga telah disampaikan melalui surat tertulis sehingga prosesnya dilakukan melalui mekanisme formal organisasi. Majelis Syura kemudian membahas dan menerima permohonan tersebut dalam forum resmi. Dengan mekanisme tersebut, pergantian kepemimpinan diharapkan tidak menimbulkan ketidakpastian terhadap struktur di tingkat wilayah maupun daerah. Pengurus di berbagai tingkatan tetap diminta menjalankan agenda organisasi seperti biasa sambil menunggu proses kepemimpinan berikutnya.
Perubahan tersebut terjadi ketika Partai Ummat memiliki pekerjaan besar dalam memperkuat basis politik setelah hasil Pemilu 2024. Pada pemilihan legislatif nasional tersebut, Partai Ummat memperoleh sekitar 642 ribu suara atau 0,42 persen suara nasional sehingga belum berhasil melewati ambang batas parlemen untuk mendapatkan kursi DPR RI. Hasil tersebut menjadi bahan evaluasi terhadap strategi, organisasi, kaderisasi, dan kemampuan partai memperluas basis pemilih. Pergantian kepemimpinan dapat menjadi kesempatan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menghadapi agenda politik berikutnya. Struktur baru memiliki waktu untuk membangun jaringan daerah dan meningkatkan komunikasi dengan masyarakat. Tantangannya adalah memastikan proses pergantian tidak justru menghambat konsolidasi yang sedang berlangsung.
Ridho Rahmadi sendiri memiliki latar belakang yang berbeda dibandingkan kebanyakan pemimpin partai politik nasional. Menantu pendiri Partai Ummat Amien Rais tersebut dikenal memiliki pengalaman akademik dan keahlian di bidang teknologi serta kecerdasan buatan. Sebelum memasuki kepemimpinan partai, aktivitasnya lebih banyak berkaitan dengan dunia pendidikan dan teknologi. Latar belakang tersebut menjadi salah satu karakter yang dibawanya ketika dipercaya menjadi Ketua Umum Partai Ummat pada usia relatif muda. Namun, aktivitas profesionalnya kembali membutuhkan perhatian besar setelah dirinya memimpin institusi pendidikan berbasis kecerdasan buatan di Yogyakarta. Persinggungan dua tanggung jawab besar tersebut pada akhirnya menjadi salah satu alasan dirinya memilih melepaskan posisi ketua umum.





