Jakarta, 10 September 2026 – Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menilai penggunaan drone bawah air menjadi salah satu teknologi penting untuk memperkuat sistem pengawasan wilayah laut Indonesia. TNI AL saat ini terus mengkaji skema penggunaan wahana nirawak bawah air untuk mendukung kegiatan pengawasan, pengintaian, dan pemetaan wilayah maritim. Pengembangan tersebut dipandang semakin relevan karena Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas dengan karakteristik geografis berbeda-beda. Teknologi nirawak dinilai dapat membantu menjangkau kawasan yang sulit atau berisiko apabila harus diperiksa menggunakan kapal maupun personel secara langsung. Kemampuan tersebut diharapkan menjadi bagian dari modernisasi sistem pertahanan maritim Indonesia pada masa mendatang.
Ali menyampaikan pandangan tersebut dalam diskusi mengenai kapal selam yang berlangsung di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Jakarta Selatan, Rabu (9/9). Menurutnya, perkembangan teknologi bawah air berlangsung semakin cepat sehingga TNI AL perlu mengikuti perubahan tersebut untuk memperkuat kemampuan pengawasan. Drone bawah air dapat dioperasikan untuk melakukan pemantauan tanpa harus selalu mengerahkan kapal berawak dalam setiap misi. Penggunaan wahana nirawak juga memungkinkan kegiatan pengintaian dilakukan pada wilayah yang mempunyai tingkat risiko lebih tinggi. Selain meningkatkan efektivitas operasi, teknologi tersebut berpotensi mengurangi risiko yang harus dihadapi personel ketika menjalankan tugas di bawah permukaan laut.
Salah satu kawasan yang dinilai dapat memperoleh manfaat dari penggunaan drone bawah air adalah titik-titik sempit atau choke point pada jalur strategis Indonesia. Ali secara khusus menyebut Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, II, dan III sebagai kawasan yang membutuhkan kemampuan pemantauan memadai. Jalur tersebut memiliki posisi strategis karena digunakan dalam perlintasan kapal yang bergerak melalui wilayah kepulauan Indonesia. Dengan daya jelajah yang memadai, drone bawah air dinilai dapat membantu mendeteksi pergerakan kapal asing maupun aktivitas lain yang membutuhkan perhatian. Informasi yang diperoleh kemudian dapat digunakan sebagai bagian dari sistem pengawasan dan pengambilan keputusan TNI AL.
Kemampuan drone bawah air tidak hanya diarahkan untuk mendeteksi pergerakan objek di laut. Teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan pemetaan kontur dasar laut Indonesia secara lebih terperinci. Data yang diperoleh dapat membantu penyusunan peta bawah laut, termasuk informasi mengenai arus, pasang surut, karang, hingga keberadaan bangkai kapal. Informasi mengenai kondisi bawah laut menjadi penting karena karakteristik perairan Indonesia tidak seragam antara wilayah barat dan timur. Kondisi kedalaman, temperatur, densitas, dan salinitas air juga dapat berbeda sehingga membutuhkan data yang terus diperbarui. Ketersediaan informasi tersebut akan mendukung pengoperasian kapal selam maupun kapal permukaan dalam berbagai kegiatan pertahanan maritim.
Penggunaan wahana nirawak juga dinilai menawarkan efisiensi dalam pelaksanaan sejumlah tugas pengawasan. Untuk misi tertentu, TNI AL tidak harus selalu mengerahkan kapal beserta awak dalam jumlah besar apabila pekerjaan dapat dilakukan menggunakan drone bawah air. Pendekatan tersebut dapat mengurangi biaya operasional sekaligus menekan risiko keselamatan prajurit, terutama ketika pemeriksaan dilakukan pada kawasan sempit, laut dalam, atau lokasi dengan kondisi medan yang sulit. Drone dapat dikirim lebih dahulu untuk mengumpulkan data sebelum unsur berawak dikerahkan apabila memang diperlukan. Konsep tersebut memungkinkan sumber daya pertahanan digunakan secara lebih efektif tanpa mengurangi kebutuhan memperoleh informasi yang akurat mengenai situasi bawah laut.
Kebutuhan memperkuat pengawasan bawah laut sebelumnya juga telah disampaikan TNI AL. Pada April 2025, Ali mengungkapkan Indonesia belum mempunyai sensor keamanan bawah laut berupa fixed sonar yang dapat digunakan untuk memantau secara permanen sejumlah jalur strategis. Kondisi tersebut dinilai menjadi kelemahan dalam mendeteksi kapal selam asing yang bergerak melalui perairan Indonesia. Saat itu, TNI AL tengah mengembangkan Sistem Pusat Komando Pengendalian untuk mendukung pengawasan keamanan laut secara lebih komprehensif. Pengawasan bawah laut disebut sebagai salah satu bagian yang masih membutuhkan peningkatan kemampuan secara signifikan. Pengembangan drone bawah air dapat menjadi salah satu komponen untuk memperkuat kemampuan tersebut, meskipun tetap membutuhkan integrasi dengan sensor dan sistem komando lainnya.
Modernisasi kemampuan bawah laut TNI AL juga berlangsung melalui penguatan sarana pencarian, penyelamatan, dan pendeteksian objek. KRI Canopus-936, misalnya, dipersiapkan untuk mendukung operasi penyelamatan bawah laut dengan sejumlah perangkat sensor dan wahana nirawak. TNI AL juga merencanakan kehadiran submersed rescue vehicle yang dapat digunakan untuk membantu proses evakuasi ketika terjadi kecelakaan kapal selam maupun objek lain di laut. Penggunaan Autonomous Underwater Vehicle dan Remotely Operated Vehicle menjadi bagian dari ekosistem teknologi yang dapat membantu mendeteksi serta memeriksa objek di bawah permukaan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sistem nirawak mulai memperoleh posisi lebih besar dalam pembangunan kemampuan operasi bawah laut.
Ali berharap pengembangan drone bawah air tidak hanya mengandalkan teknologi dari luar negeri. TNI AL ingin membuka kolaborasi dengan industri pertahanan nasional agar kemampuan tersebut secara bertahap dapat dikembangkan di dalam negeri. Kerja sama diperlukan mulai dari penelitian, pengembangan perangkat, integrasi sensor, sistem komunikasi, hingga pemeliharaan setelah teknologi digunakan secara operasional. Dalam penguatan pertahanan bawah air secara lebih luas, TNI AL juga mendorong sinergi dengan industri pertahanan, lembaga riset, akademisi, serta kementerian dan lembaga terkait. Pendekatan tersebut dinilai penting karena pembangunan kemampuan maritim membutuhkan penguasaan teknologi yang berkelanjutan dan tidak hanya bergantung pada pengadaan peralatan.
Di sisi lain, pengamat pertahanan Alman Helvas Ali menilai Indonesia masih membutuhkan teknologi yang lebih lengkap untuk mendukung sistem deteksi bawah air. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah pemanfaatan teknologi dari mitra luar negeri sambil tetap membangun kemampuan industri nasional. Sistem tersebut dapat mencakup UUV, hydrophone, sonar pasif, hingga pusat komando yang menggabungkan berbagai informasi hasil pemantauan. Kerja sama dengan produsen asing juga dapat diarahkan untuk memperoleh manfaat berupa transfer kemampuan atau skema offset bagi industri pertahanan Indonesia. Dengan pendekatan tersebut, kebutuhan operasional yang mendesak dapat dipenuhi tanpa menghilangkan tujuan jangka panjang untuk meningkatkan kemandirian teknologi pertahanan nasional.
Penguatan kemampuan bawah air menjadi semakin penting karena dasar laut kini tidak hanya dipandang sebagai ruang operasi militer, tetapi juga lokasi berbagai infrastruktur strategis. Kabel komunikasi bawah laut dan jaringan pipa energi mempunyai peran besar terhadap aktivitas ekonomi, komunikasi, dan konektivitas Indonesia dengan kawasan lainnya. Infrastruktur tersebut sulit diawasi karena berada jauh di bawah permukaan dan dapat menghadapi berbagai bentuk ancaman maupun gangguan. Kemampuan drone bawah air, sensor, sonar, kapal selam, dan pusat komando yang terintegrasi karena itu dapat menjadi bagian penting dari sistem pengawasan maritim Indonesia. TNI AL berharap perkembangan teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan deteksi sekaligus menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional di seluruh wilayah perairan Indonesia.





