Jakarta, 5 Mei 2026 – Ratusan pusat kebugaran di Korea Selatan dilaporkan tutup secara massal dalam beberapa waktu terakhir. Fenomena ini mengejutkan karena industri gym sebelumnya dikenal berkembang pesat di negara tersebut.
Penutupan ini disebut dipicu oleh perubahan tren gaya hidup masyarakat. Banyak orang kini beralih ke olahraga mandiri di rumah atau aktivitas luar ruangan yang dinilai lebih fleksibel dan hemat biaya.
Selain itu, perkembangan platform digital juga turut memengaruhi. Program latihan online dan aplikasi kebugaran membuat masyarakat dapat berolahraga tanpa harus datang ke gym, sehingga mengurangi jumlah pelanggan secara signifikan.
Faktor ekonomi juga menjadi salah satu penyebab. Kenaikan biaya operasional, termasuk sewa tempat dan peralatan, membuat banyak pengusaha kesulitan mempertahankan bisnis mereka di tengah penurunan jumlah anggota.
Di sisi lain, perubahan preferensi generasi muda yang lebih menyukai aktivitas kebugaran berbasis komunitas atau tren baru turut mempercepat pergeseran ini. Gym konvensional dinilai kurang mampu beradaptasi dengan kebutuhan tersebut.
Para pelaku industri kini dituntut untuk berinovasi agar tetap bertahan. Beberapa mulai menggabungkan layanan offline dan online, serta menghadirkan konsep baru yang lebih menarik bagi pelanggan.
Fenomena ini menjadi gambaran bahwa industri kebugaran terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Adaptasi dan inovasi dinilai menjadi kunci utama untuk bertahan di tengah perubahan perilaku masyarakat.






