Jakarta, 7 September 2026 – Rombongan Persija Jakarta harus menempuh perjalanan lebih panjang untuk kembali ke Ibu Kota setelah menyelesaikan laga tandang melawan Borneo FC Samarinda pada pekan pertama Super League 2026-2027. Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan operasional sejumlah penerbangan menuju Jakarta mengalami gangguan sehingga rencana perjalanan Macan Kemayoran harus diubah. Persija yang semula dijadwalkan melakukan perjalanan langsung dari Samarinda menuju Jakarta akhirnya memilih rute alternatif melalui Balikpapan dan Yogyakarta. Setelah tiba di Yogyakarta menggunakan pesawat, pemain, pelatih, dan ofisial melanjutkan perjalanan menuju Jakarta melalui jalur darat. Perubahan tersebut dilakukan karena status operasional bandara di Jakarta dan sekitarnya belum memberikan kepastian ketika rombongan menentukan rute kepulangan. Keselamatan dan kepastian perjalanan menjadi pertimbangan utama manajemen dalam mengambil keputusan tersebut.
Media Officer Persija Jakarta Kukuh Wahyudi menjelaskan rute kepulangan tim mengalami penyesuaian cukup signifikan akibat kondisi penerbangan. Perjalanan yang semula direncanakan melalui rute Samarinda-Jakarta berubah menjadi Samarinda-Balikpapan-Yogyakarta-Jakarta. Dari Samarinda, rombongan terlebih dahulu bergerak menuju Balikpapan sebelum melanjutkan penerbangan ke Yogyakarta. Setelah mencapai Yogyakarta, perjalanan diteruskan menggunakan transportasi darat menuju Ibu Kota karena kondisi bandara tujuan pada saat itu masih belum dapat dipastikan. Pilihan tersebut membuat perjalanan menjadi kombinasi jalur darat dan udara serta membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan rencana awal. Manajemen memilih rute alternatif agar rombongan tidak harus terus menunggu tanpa kepastian keberangkatan menuju Jakarta.
Perubahan perjalanan terjadi setelah Persija menjalani pertandingan melawan Borneo FC di Stadion Segiri, Samarinda, pada Sabtu, 5 September 2026. Macan Kemayoran berhasil mengawali kompetisi dengan kemenangan tipis 1-0 atas tuan rumah. Alexander Jeremejeff menjadi penentu kemenangan melalui gol yang dicetak pada menit ke-45+1 menjelang berakhirnya babak pertama. Keunggulan tersebut mampu dipertahankan Persija hingga pertandingan berakhir meskipun Borneo FC berusaha meningkatkan tekanan sepanjang babak kedua. Tiga poin dari Samarinda menjadi hasil positif bagi tim asuhan Shin Tae-yong pada awal perjalanan mereka di kompetisi musim ini. Namun, setelah pertandingan selesai, perhatian tim beralih kepada persoalan perjalanan pulang yang terdampak aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
Persija pada awalnya dijadwalkan meninggalkan Samarinda menuju Jakarta pada Minggu, 6 September 2026. Rencana tersebut tidak dapat dijalankan setelah sebaran abu vulkanik menyebabkan sejumlah penerbangan menuju kawasan Jakarta mengalami pembatalan dan penundaan. Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang dan Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta termasuk fasilitas penerbangan yang operasionalnya dihentikan sementara karena pertimbangan keselamatan. Kondisi itu membuat penerbangan langsung dari Kalimantan Timur menuju Jakarta tidak dapat menjadi pilihan yang memiliki kepastian tinggi bagi rombongan Persija. Tim kemudian mencari jalur lain yang masih memungkinkan digunakan tanpa harus menunggu terlalu lama di Samarinda. Yogyakarta akhirnya dipilih sebagai titik transit sebelum rombongan menempuh perjalanan terakhir menuju Jakarta melalui jalan darat.
Abu vulkanik menjadi ancaman serius terhadap operasional penerbangan karena partikel halus dapat memengaruhi kinerja mesin dan berbagai komponen pesawat. Material vulkanik yang berada di atmosfer juga berpotensi mengurangi visibilitas dan menimbulkan risiko ketika pesawat melakukan penerbangan maupun proses lepas landas dan pendaratan. Karena itu, penutupan sementara bandara dilakukan ketika hasil pemantauan menunjukkan kondisi belum memenuhi standar keselamatan. Perubahan arah dan kecepatan angin membuat pergerakan abu dapat berubah sehingga evaluasi harus dilakukan secara berkala. Kondisi tersebut menyebabkan jadwal pembukaan kembali bandara tidak selalu dapat dipastikan jauh sebelumnya. Situasi inilah yang membuat Persija memilih jalur alternatif daripada mempertahankan rencana penerbangan langsung menuju Jakarta.
Perjalanan melalui Yogyakarta memberikan kepastian lebih besar karena rombongan dapat melanjutkan perjalanan darat tanpa bergantung pada status penerbangan menuju Jakarta. Meski membutuhkan waktu dan tenaga tambahan, opsi tersebut memungkinkan seluruh anggota tim tetap bergerak menuju Ibu Kota. Perjalanan darat Yogyakarta-Jakarta juga membutuhkan pengaturan khusus karena pemain baru saja menjalani pertandingan dengan intensitas tinggi sehari sebelumnya. Tim pelatih harus memperhatikan kondisi fisik pemain agar perjalanan panjang tidak memberikan beban berlebihan terhadap proses pemulihan. Waktu istirahat, asupan nutrisi, dan hidrasi menjadi bagian yang perlu diperhatikan selama perjalanan. Kondisi tidak biasa tersebut menjadi tantangan tambahan bagi Persija setelah menyelesaikan laga tandang pertama musim ini.
Gangguan penerbangan akibat aktivitas Anak Krakatau tidak hanya dialami Persija karena sejumlah klub sepak bola yang melakukan perjalanan pada akhir pekan juga menghadapi persoalan serupa. Persebaya Surabaya, misalnya, harus menyesuaikan perjalanan setelah penerbangannya dari Lampung terdampak kondisi abu vulkanik. Tim tersebut kemudian menggunakan kombinasi perjalanan laut dan darat untuk kembali menuju Surabaya. Situasi tersebut menunjukkan dampak erupsi meluas hingga aktivitas olahraga profesional yang sangat bergantung pada transportasi antarkota. Klub harus mampu melakukan penyesuaian secara cepat ketika jalur perjalanan yang sebelumnya direncanakan tidak dapat digunakan. Pengelolaan perjalanan menjadi semakin penting karena keterlambatan kepulangan dapat memengaruhi program pemulihan dan persiapan pemain.
Bagi Persija, perjalanan panjang dari Samarinda melalui Balikpapan dan Yogyakarta juga menjadi bagian dari tantangan awal kompetisi musim ini. Tim harus mengelola kondisi fisik pemain setelah pertandingan sekaligus memastikan program latihan berikutnya tidak terganggu secara signifikan. Kemenangan atas Borneo FC memberikan modal positif, tetapi staf pelatih tetap harus memperhitungkan dampak perjalanan tambahan terhadap kebugaran skuad. Pemulihan setelah pertandingan pada umumnya membutuhkan waktu yang cukup, terutama bagi pemain yang tampil dengan menit bermain tinggi. Duduk dalam perjalanan darat dalam durasi panjang juga dapat memengaruhi kenyamanan dan proses pemulihan sehingga pengaturan aktivitas perlu dilakukan secara hati-hati. Situasi tersebut membuat manajemen dan tim pelatih harus menyesuaikan agenda setelah seluruh rombongan kembali ke Jakarta.
Gangguan yang dialami Persija sekaligus memperlihatkan besarnya pengaruh penutupan bandara utama terhadap mobilitas masyarakat dan kegiatan olahraga nasional. Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma menjadi simpul penting bagi penerbangan menuju Jakarta sehingga pembatasan operasional dapat menimbulkan efek berantai terhadap berbagai daerah. Maskapai harus mengubah rotasi pesawat, awak, serta jadwal penerbangan ketika sebuah perjalanan tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana. Penumpang kemudian harus memilih antara menunggu jadwal berikutnya atau menggunakan bandara dan moda transportasi alternatif. Dalam kasus Persija, kombinasi penerbangan menuju Yogyakarta dan perjalanan darat dipilih sebagai solusi yang dianggap paling memungkinkan. Fleksibilitas tersebut membantu tim mengurangi ketidakpastian yang muncul akibat perubahan kondisi ruang udara.
Persija kini berupaya memastikan dampak perjalanan panjang tersebut tidak mengganggu kesiapan tim setelah mengawali Super League 2026-2027 dengan kemenangan. Hasil positif 1-0 atas Borneo FC menjadi modal penting, sementara perjalanan pulang melalui Balikpapan dan Yogyakarta menjadi tantangan yang harus dihadapi di luar lapangan. Manajemen memprioritaskan kepastian dan keselamatan perjalanan dibandingkan mempertahankan rute langsung yang belum dapat digunakan akibat sebaran abu vulkanik. Setelah kembali ke Jakarta, fokus tim akan diarahkan pada pemulihan pemain dan kelanjutan program latihan. Kondisi penerbangan nasional juga terus dipantau karena aktivitas Anak Krakatau masih berpotensi memengaruhi mobilitas antardaerah. Perjalanan tidak biasa tersebut menjadi bagian dari awal musim Persija yang harus beradaptasi dengan situasi di luar pertandingan tanpa mengurangi fokus terhadap persaingan di kompetisi.





