Jakarta, 8 Juni 2026 – Anggapan bahwa diabetes hanya menyerang orang dengan berat badan berlebih masih banyak ditemukan di masyarakat. Padahal, para ahli kesehatan menegaskan bahwa seseorang yang memiliki tubuh kurus atau berat badan normal tetap berisiko mengalami diabetes apabila terdapat faktor-faktor tertentu yang memengaruhi metabolisme tubuh. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus diabetes pada individu dengan postur tubuh langsing mulai mendapat perhatian karena menunjukkan bahwa penyakit tersebut tidak selalu berkaitan langsung dengan penampilan fisik seseorang. Kondisi ini sering kali membuat penderita terlambat menyadari gejala yang muncul karena merasa tidak termasuk kelompok berisiko. Akibatnya, diagnosis baru dilakukan setelah kadar gula darah telah meningkat dalam jangka waktu yang cukup lama.
Para dokter menjelaskan bahwa diabetes merupakan penyakit yang terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan atau memproduksi insulin secara efektif. Insulin merupakan hormon yang berfungsi mengatur kadar gula dalam darah agar dapat digunakan sebagai sumber energi bagi sel-sel tubuh. Ketika mekanisme tersebut terganggu, gula akan menumpuk dalam aliran darah dan dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan. Meskipun kelebihan berat badan memang menjadi salah satu faktor risiko utama diabetes tipe 2, kondisi tersebut bukan satu-satunya penyebab. Faktor genetik, riwayat keluarga, pola makan, tingkat aktivitas fisik, hingga kualitas tidur juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap risiko seseorang terkena penyakit ini.
Salah satu penyebab diabetes pada orang bertubuh kurus adalah adanya penumpukan lemak di organ-organ internal yang tidak selalu terlihat dari luar. Kondisi yang sering disebut sebagai lemak viseral ini dapat terjadi meskipun seseorang tampak langsing secara fisik. Lemak yang menumpuk di sekitar hati, pankreas, dan organ vital lainnya dapat mengganggu sensitivitas insulin sehingga tubuh kesulitan mengendalikan kadar gula darah secara optimal. Dalam banyak kasus, individu yang terlihat kurus sebenarnya memiliki komposisi tubuh yang kurang sehat karena proporsi massa otot yang rendah dan kadar lemak internal yang relatif tinggi. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa berat badan saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi kesehatan metabolik seseorang.
Selain faktor lemak viseral, genetika juga menjadi aspek penting yang tidak dapat diabaikan. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat diabetes cenderung memiliki risiko lebih tinggi meskipun berat badannya ideal. Para peneliti menemukan bahwa faktor keturunan dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam memproduksi insulin maupun sensitivitas sel terhadap hormon tersebut. Oleh karena itu, individu dengan riwayat keluarga diabetes dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala meskipun tidak mengalami kelebihan berat badan. Kesadaran terhadap faktor genetik dianggap penting untuk mendukung deteksi dini dan pencegahan komplikasi yang lebih serius.
Pola hidup modern juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko diabetes pada kelompok usia produktif yang memiliki tubuh relatif kurus. Banyak orang menganggap dirinya sehat karena tidak mengalami kenaikan berat badan, sehingga kurang memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsi setiap hari. Konsumsi minuman tinggi gula, makanan ultra-proses, serta kebiasaan duduk dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme meskipun berat badan tetap stabil. Aktivitas fisik yang minim membuat tubuh kurang efektif dalam menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Akibatnya, kadar gula darah dapat meningkat secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang langsung disadari.
Gejala diabetes pada orang kurus umumnya tidak berbeda dengan penderita lainnya. Keluhan seperti sering merasa haus, sering buang air kecil, mudah lelah, penglihatan kabur, serta penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan perlu mendapatkan perhatian khusus. Namun karena banyak orang menganggap tubuh kurus identik dengan kondisi sehat, gejala-gejala tersebut kerap diabaikan atau dianggap sebagai akibat kelelahan biasa. Para tenaga medis mengingatkan bahwa pemeriksaan kadar gula darah secara rutin tetap penting dilakukan, terutama bagi individu yang memiliki faktor risiko tertentu. Deteksi dini memungkinkan penanganan dilakukan lebih cepat sehingga peluang mengendalikan penyakit menjadi lebih baik.
Sejumlah pakar kesehatan menilai bahwa edukasi mengenai diabetes perlu diperluas agar masyarakat tidak hanya berfokus pada berat badan sebagai indikator kesehatan. Pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, serta evaluasi gaya hidup perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh. Mereka menekankan bahwa seseorang dapat terlihat kurus namun tetap memiliki gangguan metabolik yang memerlukan perhatian medis. Sebaliknya, ada pula individu dengan berat badan lebih yang tetap memiliki kondisi metabolik yang relatif baik. Oleh karena itu, pendekatan kesehatan modern semakin menekankan pentingnya melihat kondisi tubuh secara komprehensif, bukan hanya berdasarkan penampilan fisik.
Meningkatnya kesadaran mengenai risiko diabetes pada orang bertubuh kurus diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan sejak dini. Para ahli menyarankan penerapan pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan berkala sebagai langkah pencegahan yang efektif. Dengan memahami bahwa diabetes dapat menyerang siapa saja tanpa memandang bentuk tubuh, masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap berbagai faktor risiko yang ada. Pencegahan dan deteksi dini tetap menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak penyakit yang terus menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia dan dunia. Kesadaran tersebut diharapkan mampu membantu lebih banyak orang menjaga kualitas hidup yang sehat dan produktif dalam jangka panjang.






