Jakarta, 28 Agustus 2026 – Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menceritakan pengalamannya menjadi korban rekayasa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pengalaman tersebut disampaikan untuk mengingatkan masyarakat mengenai semakin berkembangnya teknologi yang dapat digunakan untuk memanipulasi informasi.
Megawati menilai perkembangan AI membawa manfaat besar, tetapi juga menghadirkan tantangan baru apabila teknologi tersebut digunakan untuk membuat konten yang menyesatkan.
Megawati Pernah Jadi Korban
Megawati mengungkapkan dirinya pernah mengalami situasi ketika teknologi AI digunakan untuk merekayasa konten yang seolah-olah menampilkan dirinya.
Konten hasil manipulasi tersebut dapat membuat seseorang terlihat atau terdengar menyampaikan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dilakukan atau dikatakan.
Pengalaman itu membuat Megawati menaruh perhatian terhadap pentingnya kewaspadaan masyarakat dalam menerima informasi digital.
AI Bisa Disalahgunakan
Perkembangan teknologi AI memungkinkan pembuatan gambar, suara, maupun video yang semakin menyerupai kondisi sebenarnya. Jika tidak diperiksa secara cermat, masyarakat dapat kesulitan membedakan konten asli dengan hasil rekayasa.
Kondisi tersebut menjadi tantangan karena konten manipulatif dapat menyebar dengan cepat melalui berbagai platform digital.
Megawati mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak hanya dilihat dari sisi manfaatnya, tetapi juga potensi penyalahgunaannya.
Masyarakat Perlu Kritis
Masyarakat diharapkan tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial, terutama konten yang melibatkan tokoh publik atau membawa pernyataan sensitif.
Pemeriksaan terhadap sumber informasi dan konteks konten menjadi langkah penting sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Kebiasaan melakukan verifikasi juga diperlukan untuk mencegah informasi palsu semakin luas.
Literasi Digital Diperkuat
Pengalaman yang disampaikan Megawati turut menyoroti pentingnya peningkatan literasi digital. Kemampuan mengenali konten manipulatif menjadi semakin diperlukan seiring perkembangan teknologi AI.
Literasi digital bukan hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan menilai kredibilitas informasi.
Masyarakat perlu memahami bahwa video atau rekaman suara yang terlihat meyakinkan belum tentu menunjukkan kejadian sebenarnya.
Teknologi Harus Digunakan Bijak
Megawati menekankan bahwa perkembangan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan positif. AI dapat memberikan manfaat dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, penelitian, kesehatan, dan pelayanan publik.
Namun, penggunaan teknologi perlu disertai tanggung jawab agar tidak merugikan orang lain.
Penyalahgunaan AI untuk memanipulasi identitas atau pernyataan seseorang dapat menimbulkan dampak serius terhadap korban maupun masyarakat yang menerima informasi tersebut.
Waspadai Konten Tokoh Publik
Konten yang menggunakan wajah dan suara tokoh publik menjadi salah satu bentuk manipulasi yang perlu diwaspadai. Masyarakat dapat tertipu apabila tidak mengetahui bahwa materi tersebut telah dibuat atau dimodifikasi menggunakan teknologi.
Karena itu, informasi yang berasal dari akun atau kanal tidak resmi sebaiknya diperiksa kembali melalui sumber terpercaya.
Megawati Soekarnoputri menceritakan pengalamannya menjadi korban rekayasa AI. Ia menyoroti potensi penyalahgunaan teknologi untuk membuat konten yang seolah-olah menampilkan atau memuat pernyataan seseorang, sekaligus mengingatkan masyarakat agar semakin kritis dan melakukan verifikasi terhadap informasi digital yang beredar.





