Jakarta, 15 September 2026 – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan sekitar 20 koper, boks, dan kardus berisi uang tunai dalam operasi tangkap tangan yang dilakukan di lingkungan Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor pada Senin, 14 September 2026. Uang yang ditemukan terdiri atas mata uang rupiah dan valuta asing dengan estimasi sementara mencapai ratusan miliar rupiah. Jumlah pastinya masih dalam proses penghitungan oleh tim KPK sehingga nilai akhir barang bukti belum diumumkan. Temuan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan dugaan tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB). KPK juga mengamankan 17 orang dari rangkaian operasi yang berlangsung di wilayah Jabodetabek. Para pihak yang diamankan kemudian menjalani pemeriksaan untuk menentukan keterlibatan dan status hukum masing-masing.
Barang bukti uang ditemukan dalam berbagai bentuk kemasan, mulai dari koper hingga boks dan kardus. Banyaknya uang yang diamankan membuat proses penghitungan membutuhkan waktu karena petugas perlu melakukan pencatatan terhadap seluruh barang bukti secara teliti. Selain menghitung nominal, penyidik perlu mengidentifikasi jenis mata uang, lokasi penemuan, serta pihak yang menguasai uang ketika operasi berlangsung. Informasi tersebut nantinya akan dibandingkan dengan keterangan orang-orang yang diamankan. Penyidik juga perlu mengetahui apakah seluruh uang memiliki keterkaitan dengan perkara yang sama atau berasal dari beberapa transaksi berbeda. Penelusuran tersebut menjadi bagian penting untuk membangun konstruksi perkara berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Operasi tangkap tangan tersebut diduga berkaitan dengan pengurusan HGB di Kabupaten Bogor serta dugaan penerimaan lainnya. Pengurusan hak atas tanah memiliki nilai ekonomi yang besar, terutama ketika berkaitan dengan pengembangan kawasan maupun proyek properti. Karena itu, KPK mendalami kemungkinan adanya pemberian yang dimaksudkan untuk memengaruhi proses atau keputusan tertentu dalam pelayanan pertanahan. Penyidik perlu mengetahui hubungan antara uang yang ditemukan dengan kewenangan pejabat yang ikut diamankan. Pemeriksaan terhadap dokumen administrasi dapat membantu mengetahui tahapan pengurusan yang sedang berlangsung ketika dugaan transaksi terjadi. Komunikasi antara pihak berkepentingan dengan pejabat juga dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan perkara.
Sebanyak 17 orang diamankan dalam rangkaian OTT tersebut, termasuk sejumlah pejabat strategis di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Salah satu pejabat yang diamankan adalah Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang ATR/BPN Lampri. Selain itu, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I Sontang Coin Manurung dan Kepala Kantor Pertanahan Kota Tangerang Tardi turut diamankan. KPK juga membawa sejumlah pihak lain untuk menjalani pemeriksaan terkait rangkaian perkara tersebut. Banyaknya pihak yang diamankan menunjukkan penyidik perlu memetakan hubungan serta peran setiap individu secara terpisah. Tidak seluruh orang yang diamankan dalam OTT otomatis memiliki status hukum yang sama karena penentuannya bergantung pada hasil pemeriksaan dan alat bukti.
Penyitaan uang dengan nilai yang diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah membuat penelusuran aliran dana menjadi bagian penting dalam pemeriksaan. Penyidik perlu mengetahui sumber dana, pihak yang menyediakan, tujuan penyerahan, serta siapa yang akhirnya akan menerima atau menguasainya. Rekening perbankan, dokumen keuangan, catatan transaksi, dan barang bukti elektronik dapat diperiksa apabila memiliki hubungan dengan perkara. Apabila ditemukan transaksi sebelumnya dengan pola serupa, penyidikan berpotensi berkembang melampaui kejadian yang menjadi titik awal OTT. KPK dapat memanggil pihak tambahan apabila keterangannya diperlukan untuk menjelaskan aliran uang tersebut. Setiap perkembangan tetap harus didasarkan pada kecukupan bukti dan hasil pemeriksaan.
Barang bukti elektronik juga dapat memiliki posisi penting untuk menghubungkan uang dengan proses pengurusan pertanahan yang sedang diselidiki. Percakapan, jadwal pertemuan, dokumen digital, maupun catatan lain dapat memberikan gambaran mengenai komunikasi sebelum operasi dilakukan. Penyidik dapat mencocokkan waktu komunikasi dengan proses administrasi dan transaksi yang ditemukan. Pendekatan tersebut diperlukan agar konstruksi perkara tidak hanya bergantung pada keberadaan uang tunai. KPK harus membuktikan hubungan antara pemberian atau penerimaan dengan tindakan serta kewenangan pejabat apabila perkara akan dibawa ke tahap hukum berikutnya. Keterangan dari setiap pihak kemudian diuji dengan bukti lain untuk memastikan konsistensinya.
OTT di Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor sekaligus kembali menyoroti pentingnya transparansi dalam pelayanan pertanahan. Proses penerbitan maupun pengelolaan hak atas tanah dapat memiliki konsekuensi ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat dan pelaku usaha. Sistem pelayanan karena itu harus memiliki prosedur, persyaratan, biaya, dan waktu penyelesaian yang jelas. Digitalisasi dapat membantu menciptakan jejak administrasi sehingga setiap tahapan dan pejabat yang mengambil keputusan dapat diketahui. Namun, sistem digital tetap membutuhkan pengawasan serta integritas dari seluruh pihak yang menjalankannya. Pencegahan dan penindakan harus berjalan bersama agar ruang terjadinya transaksi di luar ketentuan semakin kecil.
Kementerian ATR/BPN juga memiliki kepentingan untuk memastikan proses hukum tidak mengganggu pelayanan pertanahan kepada masyarakat. Apabila terdapat pejabat yang tidak dapat menjalankan tugas karena menjalani pemeriksaan, mekanisme organisasi perlu memastikan fungsi pelayanan tetap berjalan. Pada saat yang sama, kasus tersebut dapat menjadi bahan evaluasi terhadap prosedur internal yang memiliki risiko penyalahgunaan kewenangan. Pengawasan terhadap proses dengan nilai ekonomi tinggi dapat diperkuat melalui pemeriksaan berjenjang maupun audit secara berkala. Transparansi juga memberikan perlindungan kepada pegawai karena keputusan dapat ditelusuri berdasarkan prosedur yang terdokumentasi. Perbaikan sistem menjadi penting agar persoalan tidak hanya diselesaikan melalui penindakan terhadap individu.
KPK masih memiliki pekerjaan untuk mengurai hubungan antara puluhan kemasan uang yang ditemukan dengan 17 orang yang diamankan. Status setiap pihak harus ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti yang tersedia, bukan semata-mata karena berada dalam rangkaian operasi. Prinsip praduga tak bersalah tetap berlaku terhadap mereka yang belum terbukti melakukan tindak pidana melalui proses hukum. Penghitungan uang juga perlu diselesaikan sebelum nilai barang bukti dapat diumumkan secara pasti. Apabila terdapat valuta asing, pencatatan harus dilakukan berdasarkan jenis dan nominal masing-masing mata uang. Kejelasan mengenai asal dan tujuan dana akan menjadi salah satu bagian yang menentukan arah pengembangan penyidikan.
OTT di Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor yang menghasilkan temuan sekitar 20 koper, boks, dan kardus berisi uang pada akhirnya menjadi salah satu penindakan besar KPK di sektor pertanahan pada 2026. Estimasi sementara menunjukkan nilai barang bukti mencapai ratusan miliar rupiah, meskipun jumlah pastinya masih dihitung. Operasi tersebut berkaitan dengan dugaan korupsi dalam pengurusan HGB dan dugaan penerimaan lainnya dengan 17 orang diamankan untuk diperiksa. KPK kini perlu membuktikan hubungan antara uang, proses pertanahan, kewenangan pejabat, serta kepentingan pihak-pihak yang terlibat. Hasil pemeriksaan akan menentukan siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban dan bagaimana konstruksi lengkap perkara tersebut. Kasus ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat transparansi serta pengawasan terhadap pelayanan pertanahan agar proses administrasi berjalan sesuai ketentuan dan terbebas dari praktik korupsi.





