Dalam langkah bersejarah, lebih dari 80 negara dari lima benua resmi menandatangani Perjanjian Keamanan Siber Global (Global Cybersecurity Accord) yang bertujuan memperkuat pertahanan digital lintas batas dan mempercepat respon terhadap serangan siber berskala besar.
Koalisi ini terbentuk setelah serangkaian serangan siber global di awal tahun yang memecahkan rekor, termasuk DDoS terbesar sepanjang sejarah dan gelombang ransomware yang melumpuhkan layanan publik serta perusahaan multinasional.
Fokus dan Misi Utama Koalisi
-
Berbagi Intelijen Real-Time
Anggota akan membangun platform berbagi data siber global untuk mendeteksi dan mengatasi ancaman dengan cepat, mirip sistem “early warning” digital. -
Standarisasi Protokol Pertahanan Siber
Mengembangkan panduan teknis yang berlaku lintas negara untuk merespons serangan ransomware, phishing, hingga ancaman AI berbahaya. -
Latihan Siber Multinasional
Menggelar simulasi serangan siber skala besar setiap tahun untuk menguji kesiapan infrastruktur digital nasional dan internasional. -
Perlindungan Infrastruktur Kritis
Memastikan sistem listrik, kesehatan, komunikasi, dan keuangan mendapat prioritas dalam penguatan keamanan.
Anggota dan Struktur
Koalisi ini melibatkan:
-
Amerika Utara & Eropa: AS, Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, Uni Eropa.
-
Asia & Timur Tengah: Jepang, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, India, Singapura.
-
Afrika: Afrika Selatan, Nigeria, Kenya.
-
Amerika Selatan: Brasil, Argentina, Chile.
Markas besar koordinasi akan berada di Jenewa, Swiss, sementara pusat data dan analitik ditempatkan di Singapura, Frankfurt, dan Toronto.
Tantangan ke Depan
Meskipun koalisi ini disambut positif, para ahli menekankan bahwa harmonisasi hukum siber antarnegara dan keamanan data sensitif akan menjadi tantangan besar. Beberapa pihak juga khawatir bahwa mekanisme berbagi intelijen lintas batas bisa disalahgunakan untuk tujuan politik.
Kesimpulan
Pembentukan Koalisi Keamanan Siber Lintas Benua menandai era baru diplomasi digital, di mana pertahanan dunia maya kini dianggap sama pentingnya dengan pertahanan fisik. Dengan meningkatnya ancaman global, kerja sama ini diharapkan mampu menjadi benteng utama melawan perang digital di masa depan.