Banjarmasin, 12 September 2026 – Kementerian Perhubungan menjelaskan perkembangan penanganan dan evakuasi korban KM Virgo Transport 8 yang mengalami kecelakaan di perairan Masalembo, Laut Jawa, ketika berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Penanganan dilakukan bersama Basarnas dan berbagai unsur terkait dengan mengerahkan kapal serta dukungan udara untuk menemukan dan mengevakuasi seluruh orang yang berada di kapal. Berdasarkan manifes, KM Virgo Transport 8 membawa total 243 orang yang terdiri atas awak kapal, mitra kerja kapal, penumpang dewasa, seorang anak, serta sopir dan kernet kendaraan yang diangkut. Kapal juga membawa sebanyak 89 unit kendaraan dalam pelayaran tersebut. Operasi penyelamatan menjadi prioritas utama setelah kapal dilaporkan mengalami kondisi miring dan kemudian kehilangan kontak. Pemerintah memastikan pencarian akan terus dilakukan terhadap korban yang belum ditemukan.
Kementerian Perhubungan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas I Banjarmasin juga mendirikan posko darurat di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Posko tersebut digunakan sebagai pusat koordinasi penanganan kecelakaan sekaligus tempat mengumpulkan informasi mengenai perkembangan pencarian dan kondisi korban. KSOP berkoordinasi dengan Basarnas Banjarmasin, pengelola pelabuhan, Distrik Navigasi, layanan Vessel Traffic Service, pihak keagenan kapal, serta unsur lainnya. Keluarga korban juga dapat memperoleh perkembangan informasi melalui posko tersebut. Pemusatan koordinasi diperlukan agar data yang diterima dari berbagai kapal penyelamat dapat segera dicocokkan. Pendataan yang akurat menjadi penting karena operasi melibatkan banyak unsur dan korban dievakuasi menuju lokasi yang berbeda.
Kronologi awal menunjukkan KM Virgo Transport 8 berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin sebelum mengalami kondisi darurat di Laut Jawa. Ketika perjalanan berlangsung, nakhoda sempat melaporkan kapal menghadapi cuaca buruk. Komunikasi berikutnya menyebutkan posisi kapal telah mengalami kemiringan atau listing sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Setelah laporan tersebut, komunikasi dengan kapal kemudian terputus sehingga operasi pencarian segera dilakukan. Lokasi terakhir kapal menjadi dasar bagi tim SAR untuk menentukan sektor awal penyisiran. Kondisi cuaca, arus laut, serta pergerakan kapal sebelum kehilangan kontak turut diperhitungkan dalam menentukan area pencarian berikutnya.
Proses evakuasi melibatkan kapal-kapal yang berada relatif dekat dengan lokasi kejadian selain armada khusus pencarian dan pertolongan. Sejumlah korban ditemukan dan diangkat oleh kapal niaga maupun kapal pendukung yang bergerak menuju titik kecelakaan. Sebagian korban kemudian diarahkan menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, sedangkan korban lainnya dibawa menuju pelabuhan yang dinilai lebih memungkinkan berdasarkan posisi kapal penyelamat. Pola tersebut dilakukan untuk mempercepat pertolongan dan tidak memaksakan seluruh kapal bergerak menuju satu lokasi yang sama. Korban yang berhasil dievakuasi menjalani pendataan dan pemeriksaan kesehatan. Mereka yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut kemudian diarahkan menuju fasilitas kesehatan.
Jumlah korban yang berhasil ditemukan terus berubah seiring berlangsungnya operasi SAR. Data perkembangan menunjukkan lebih dari seratus orang telah berhasil dievakuasi, sementara sejumlah korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Pada saat yang sama, lebih dari seratus orang lainnya masih dalam pencarian sehingga pengerahan kekuatan terus diperluas. Perubahan angka selama operasi merupakan hal yang dapat terjadi karena laporan dari berbagai kapal harus terlebih dahulu dicocokkan dengan manifes. Nama korban selamat juga perlu diverifikasi untuk memastikan tidak terjadi pencatatan ganda. Pemerintah meminta masyarakat dan keluarga mengikuti pembaruan resmi karena data dapat berubah mengikuti perkembangan pencarian.
Unsur udara digunakan untuk membantu memperluas jangkauan pengamatan di sekitar lokasi kecelakaan. Helikopter dapat melakukan penyisiran dengan cakupan lebih besar dibandingkan kapal yang bergerak di permukaan laut. Dari udara, petugas dapat mencari keberadaan korban, sekoci, pelampung, maupun benda lain yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah pergerakan setelah kapal mengalami kecelakaan. Informasi yang diperoleh kemudian diteruskan kepada kapal SAR untuk melakukan pemeriksaan lebih dekat. Dukungan udara menjadi semakin penting ketika korban kemungkinan telah tersebar akibat arus dan gelombang. Operasi laut dan udara karena itu harus berjalan secara terkoordinasi agar wilayah pencarian dapat diperiksa secara efektif.
Kemenhub menekankan fokus utama pada tahap awal adalah keselamatan seluruh penumpang dan awak kapal. Penyelidikan mengenai penyebab kecelakaan tetap dilakukan, tetapi tidak boleh mengganggu konsentrasi terhadap pencarian korban. Informasi awal mengenai kondisi kapal, cuaca, muatan, dan kronologi sebelum kapal terbalik akan dikumpulkan untuk kebutuhan investigasi. Pemeriksaan lebih mendalam nantinya dapat mencakup stabilitas kapal, distribusi muatan, prosedur keselamatan, kondisi teknis, serta tindakan awak sebelum keadaan darurat terjadi. Keterangan korban selamat juga memiliki nilai penting untuk merekonstruksi kejadian. Kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan baru dapat ditentukan setelah seluruh bukti dianalisis.
Kesaksian awal dari salah seorang penumpang selamat menyebut kapal mengalami kemiringan dengan cepat sebelum akhirnya terbalik. Kondisi tersebut menyebabkan penumpang harus segera mencari cara menyelamatkan diri dalam situasi yang sangat terbatas. Informasi mengenai bagaimana kondisi kapal berubah akan menjadi salah satu bagian yang perlu diverifikasi dalam investigasi. Petugas juga perlu mengetahui bagaimana prosedur pemberitahuan keadaan darurat berlangsung dan bagaimana perlengkapan keselamatan digunakan. Pemeriksaan tersebut penting karena kecepatan perubahan kondisi kapal dapat sangat memengaruhi kesempatan penumpang melakukan evakuasi. Setiap kesaksian akan dibandingkan dengan data teknis agar kronologi dapat disusun secara lebih akurat.
Di Pelabuhan Trisakti, fasilitas pendukung disiapkan untuk menerima korban sekaligus membantu keluarga yang menunggu perkembangan pencarian. Ruang pemeriksaan kesehatan disediakan agar kondisi korban dapat segera diperiksa setelah tiba di daratan. Sarana komunikasi dan informasi juga dibutuhkan untuk memperbarui daftar korban yang ditemukan. Keluarga yang datang membutuhkan kepastian mengenai apakah anggota keluarganya termasuk korban yang telah dievakuasi atau masih dalam pencarian. Karena itu, identifikasi harus dilakukan dengan hati-hati sebelum informasi disampaikan. Kesalahan pencatatan dapat menambah beban psikologis keluarga yang sedang menunggu kabar.
Penanganan kecelakaan KM Virgo Transport 8 kini difokuskan pada pencarian seluruh korban yang belum ditemukan sekaligus memastikan mereka yang telah dievakuasi mendapatkan penanganan yang diperlukan. Kementerian Perhubungan bersama Basarnas, KSOP, TNI, Polri, pengelola pelabuhan, kapal-kapal di sekitar lokasi, dan unsur terkait lainnya terus mengoordinasikan operasi di Laut Jawa. Area pencarian dapat diperluas berdasarkan perhitungan arus dan temuan terbaru dari tim di lapangan. Pemerintah juga akan melanjutkan investigasi untuk mengetahui penyebab kapal mengalami kemiringan hingga akhirnya terbalik. Hasil penyelidikan nantinya diharapkan menjadi dasar evaluasi terhadap aspek keselamatan pelayaran dan pengawasan kapal penumpang. Untuk sementara, pencarian dan penyelamatan tetap menjadi prioritas sampai keberadaan seluruh penumpang serta awak KM Virgo Transport 8 dapat dipastikan.





