
Jayapura – Aktor senior dan ikon sinema Indonesia, Nicholas Saputra, resmi kembali ke layar lebar dalam film terbaru berjudul “Mantra Terakhir”, sebuah drama misteri dengan latar budaya suku-suku asli Papua. Film ini akan menjadi kolaborasi epik antara sinema dan etnografi, dengan pengambilan gambar utama di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah Papua, mulai Agustus 2025.
Disutradarai oleh Garin Nugroho, dan diproduksi bersama rumah produksi internasional asal Prancis, Astra Films, proyek ini disebut-sebut sebagai film Indonesia pertama yang menggunakan 80% dialog dalam bahasa daerah asli Papua, yakni Dani dan Yali, dengan subtitle internasional.
Sinopsis: Tradisi, Dendam, dan Spiritualitas
“Mantra Terakhir” mengisahkan Dr. Arya (Nicholas Saputra), seorang antropolog budaya asal Jakarta yang kembali ke Papua untuk meneliti peninggalan magis suku Dani. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan seorang dukun tua yang menyimpan rahasia mantra kuno yang bisa membuka ingatan leluhur, namun juga membawa kutukan.
Cerita berkembang menjadi pencarian filosofis antara pengetahuan ilmiah dan kearifan spiritual lokal, saat Arya harus memilih antara membuka misteri demi ilmu pengetahuan atau menghormati tabu dan tradisi yang dijaga turun-temurun.
“Ini bukan sekadar film misteri, tapi juga tentang konflik antara modernitas dan akar budaya yang kerap dilupakan,” kata Nicholas dalam konferensi pers daring.
Shooting di Lokasi Sakral: Tantangan dan Kehormatan
Selama dua bulan, tim produksi akan tinggal di sekitar Wamena dan Distrik Kurulu, dengan persetujuan dan kerja sama penuh dari dewan adat suku Dani dan pemerintah daerah.
Beberapa tantangan produksi yang disampaikan tim:
-
Membawa peralatan sinema melalui jalur udara dan darat ekstrem
-
Adaptasi cuaca ekstrem di dataran tinggi dan penggunaan sumber daya lokal
-
Pelatihan pemain figuran dari komunitas lokal dalam bidang akting dan teknis produksi
Selain Nicholas, film ini juga dibintangi oleh:
-
Christine Hakim sebagai ibu adat suku Yali
-
Marthino Lio sebagai jurnalis investigasi
-
Aktor lokal pendatang baru dari Papua: Yafet Tabuni dan Elina Wonda
Nilai Budaya dan Dukungan Pemerintah
Film ini mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta UNESCO Cultural Preservation Program, karena menampilkan praktik budaya yang jarang terekam, seperti:
-
Upacara Pikaki Teleng (ritual penyembuhan dengan tarian roh)
-
Proses pembuatan honai tradisional dan sistem pertanian kaki bukit
-
Musik suku Dani dan Yali dengan alat tiup tulang dan nyanyian mantra
“Kami ingin agar dunia melihat Papua bukan hanya dari berita konflik, tapi juga lewat kedalaman peradaban dan spiritualitas yang hidup di sana,” ujar Garin Nugroho.
Ekspektasi dan Festival Internasional
“Mantra Terakhir” dijadwalkan rilis di Festival Film Cannes 2026, dalam kategori Un Certain Regard, serta akan masuk daftar film kompetisi di Venice Film Festival dan Tokyo International Film Festival. Distribusi internasional sudah diamankan oleh Memento Films untuk kawasan Eropa dan Amerika Utara.
Trailer teaser pertama akan dirilis pada Desember 2025, bersamaan dengan peluncuran behind-the-scenes dokumenter berjudul “Mencari Mantra di Lembah Matahari”.
Penutup
Dengan “Mantra Terakhir”, Nicholas Saputra dan Garin Nugroho menghadirkan film yang tak hanya bercerita, tapi merekam denyut kebudayaan asli Indonesia dalam lanskap sinema yang puitis dan spiritual. Ini bukan hanya tentang Papua, tapi tentang Indonesia yang mendalam, kompleks, dan belum banyak dikenal dunia.
Film ini diharapkan menjadi jembatan antara kearifan lokal dan kesadaran global, membuka mata kita semua tentang betapa pentingnya menjaga tradisi—sebelum ia menjadi mantra yang terlupakan.